Window Dressing dan Strategi Investasi 2018

Ingin mulai menyusun strategi investasi 2018 nanti? Atau sedang mencari strategi investasi memanfaatkan moment akhir tahun?

Mau tau apa sih yang namanya window dressing? Kok menjelang penghujung tahun makin ngetop dibahas di media-media?

Jika demikian, artikel berikut ini wajib disimak dan dipelajari. Ditulis oleh seorang analis yang sudah cukup lama malang melintang di pasar modal yang beberapa kali membagi ilmunya di blog ini.

Artikel ini juga pernah dimuat di harian Bisnis Indonesia, Senin 4 Desember 2017 lalu.

“Junior Planner”

 

Koreksi di Penghujung Rally

Periode 2013 hingga 2016, pasar saham Indonesia mengalami fluktuasi tinggi dengan kinerja yang relatif tidak luar biasa. Kinerja IHSG pada periode tersebut hanya mencapai sedikit diatas 7% per tahun, lebih rendah dibandingkan kinerja Indeks IBPA Surat Utang Negara yang memberikan keuntungan hampir 10% per tahun.

Kinerja pasar saham mulai membaik di tahun 2016, dimana IHSG mencapai kinerja diatas 15%. Sepanjang tahun 2017, pasar saham Indonesia melanjutkan rally 2016. Tahun ini (hingga akhir November 2017), indeks IDX30 berhasil mencapai kinerja diatas 17% dan IHSG mencapai kinerja diatas 14%.

Tidak hanya pasar saham, pasar obligasi Indonesia juga berhasil mencatatkan kinerja baik sepanjang tahun ini. Indeks IBPA Surat Utang Negara memberikan kinerja 15%, dimana hampir 50% keuntungan tersebut adalah kontribusi dari capital gain.

Pertumbuhan ekonomi, inflasi yang rendah, perbaikan kinerja bisnis emiten serta valuasi yang relatif menarik merupakan faktor pendukung kenaikan indeks saham dan obligasi tersebut.

Namun, pada dua hari terakhir November 2017, saham-saham berkapitalisasi besar mengalami koreksi signifikan yang menyebabkan IHSG turun sekitar 2%. Saham HMSP, BBRI dan SMGR turun hingga 5-6%, sedangkan saham BBCA, ASII dan INDF turun hingga 4-5%.

Hal ini antara lain disebabkan oleh rebalancing portofolio oleh investor asing pada akhir bulan. Investor asing melakukan penjualan bersih saham sebanyak lebih dari Rp9 triliun pada dua hari terakhir November 2017.

Koreksi ini membawa IHSG turun di bawah level 6.000. Pencapaian level 6.000, secara psikologis, dianggap dapat memberikan support kepada indeks saham untuk rally lebih lanjut. Sehingga koreksi tersebut sedikit banyak dapat memberikan keraguan bagi investor untuk melangkah ke Desember 2017.

Window Dressing Desember

Desember selalu menjadi bulan yang istimewa di pasar modal. Umumnya pelaku investasi percaya bahwa para investor berlomba untuk memperbaiki komposisi portofolio dan kinerjanya di bulan terakhir tersebut sehingga laporan investasi akhir tahun terlihat lebih baik. Aktivitas ini lebih dikenal dengan istilah window dressing.

Umumnya pelaku investasi percaya bahwa para investor berlomba untuk memperbaiki komposisi portofolio dan kinerjanya di bulan terakhir tersebut sehingga laporan investasi akhir tahun terlihat lebih baik

Ada beberapa cara melakukan window dressing misalnya dengan menjual saham dalam portofolio yang mengalami kerugian kemudian membeli saham lain yang sedang dalam trend naik untuk segera mendapatkan capital gain atau menjual saham kapitalisasi menengah dan kecil untuk digantikan dengan saham kapitalisasi besar.

Strategi lain dengan menjual saham dengan fundamental menengah dan lemah dengan saham berfundamental kuat atau mengganti saham dengan likuiditas rendah dengan saham yang memiliki likuiditas tinggi.

Pelaksanaan strategi-strategi tersebut, yang dilakukan oleh banyak investor pada rentang waktu yang relatif bersamaan, biasanya akan mendorong kenaikan harga saham-saham berkapitalisasi besar yang akhirnya juga mendorong kenaikan indeks saham di bulan Desember.

Bila melihat periode tahun 2013 hingga 2016, IHSG mencatat kinerja positif di bulan Desember pada setiap tahun-tahun tersebut. Bahkan pada saat IHSG mengalami kerugian untuk periode setahun pada tahun 2013 (-1%) dan 2015 (-12%), kinerja bulan Desember pada kedua tahun tersebut tetap positif. Secara berturut-turut, kinerja IHSG di bulan Desember 2013, 2014, 2015 dan 2016 adalah 0,4%, 1,5%, 3,3% dan 2,8%.

Pada Desember 2015, kenaikan IHSG terutama didorong oleh sektor barang konsumsi, otomotif dan perbankan. Harga saham barang konsumsi seperti HMSP, ICBP dan GGRM, masing-masing naik sebesar 3,3%, 3,4% dan 2%. Saham ASII, mewakili sektor otomotif naik 2,4% sedangkan saham perbankan seperti BDMN dan BBCA masing-masing naik sebesar 9,7% dan 0,8%.

Berbeda dengan 2015, kinerja positif IHSG di Desember 2016 didominasi oleh performa sektor perbankan, didorong kenaikan harga saham BBCA (+8,6%), BMRI (+12,1%), BBRI (+10,7%, BBNI (+8,3%) dan BDMN (+13,8%). Selain itu saham ASII (+7,5%), TLKM (+4,2%) dan SCMA (+15,8%) juga memiliki kontribusi besar pada kenaikan IHSG tersebut.

Sejarah Berulang di Desember 2017?

Kenaikan IHSG dapat berulang di Desember 2017. Hal ini bisa dilihat dari beberapa faktor:

#1 Konsistensi kenaikan IHSG setiap Desember

Konsistensi kenaikan IHSG setiap Desember selama empat tahun terakhir menguatkan ekspektasi tersebut. Window dressing merupakan faktor yang diharapkan dapat mendorong indeks saham mencapai kinerja positif di Desember.

#2 Koreksi di akhir November 2017

Koreksi saham di akhir November 2017 membuka peluang bagi investor untuk membeli saham-saham kapitalisasi besar pada valuasi yang lebih murah. Rasio price-to-earning IHSG saat ini 22x, lebih rendah dari rata-rata historis empat tahun terakhir sebesar 23x.

#3 Kinerja indeks saham utama

Kinerja indeks saham utama di Asia, Amerika Serikat dan Eropa yang positif tahun ini menunjukkan masih kuatnya minat investor global di kelas aset saham.

#4 Faktor lainnya

Faktor lain seperti perkembangan bisnis emiten yang positif, inflasi rendah, pelemahan indeks mata uang USD bila tidak mendorong tambahan fund flows global ke pasar saham Indonesia setidaknya dapat mencegah terjadinya fund outflows besar seperti akhir November. Sebagai catatan, investor asing melakukan penjualan bersih pada pasar saham Indonesia pada kuartal-4 selama empat tahun terakhir sehingga koreksi pada akhir November kemarin dapat dianggap masih dalam batas normal.

Kinerja Pasca Desember

Periode 2013-2017, IHSG hampir selalu menunjukkan kinerja positif pada pada bulan Januari-Maret, dengan rata-rata keuntungan 1.5%-3% per bulan. Hanya satu kali IHSG mengalami kinerja negatif pada periode tersebut yaitu pada Januari 2017 (-0,05%). Biasanya IHSG menunjukkan volatilitas lebih tinggi pada periode April hingga November.

Risiko Investasi

Seperti halnya bidang non-eksak lainnya, penggunaan data masa lalu dan masa kini tidak dapat menjamin keakuratan estimasi hasil investasi di masa depan. Terkait window dressing Desember, ada beberapa risiko yang perlu dipertimbangkan.

Risiko pertama terkait fakta bahwa tidak semua saham kapitalisasi besar naik di bulan Desember. Pada Desember 2015, terdapat cukup banyak saham kapitalisasi besar yang mengalami penurunan harga seperti UNVR (-2,9%), PGAS (-7,5%), TLKM (-0,7%), BMRI (-0,8%) dan INDF (-3,2%). Berbeda dengan 2015, lebih sedikit saham kapitalisasi besar yang mengalami penurunan pada Desember 2016. Namun pada waktu itu saham UNVR dan UNTR, masing-masing turun 3,6% dan 2,4%.

Risiko kedua terkait sektor mana yang akan naik di Desember. Pada Desember 2015, sektor barang konsumsi adalah kontributor utama kenaikan IHSG. Sedangkan pada Desember 2016, sektor perbankan yang menjadi kontributor utama.

Strategi Akhir Tahun

Kami percaya bahwa kenaikan indeks saham akhir tahun masih akan didominasi oleh saham-saham berkapitalisasi besar dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi. Dengan demikian investor dapat memanfaatkan kesempatan untuk berinvestasi pada saham-saham tersebut atau reksa dana yang memiliki portofolio pada saham dengan kriteria tersebut.

Proyeksi per sektor

Sektor perbankan, telekomunikasi dan barang konsumsi memiliki fundamental dan prospek pertumbuhan yang baik. Sektor automotif dan semen secara perlahan menunjukkan perbaikan pertumbuhan.

Sedangkan sektor pertambangan dan perkebunan menunjukkan volatilitas setelah rally sebelumnya dan berharap kenaikan harga minyak mentah membawa hal positif terhadap bisnis emiten dan persepsi investor. Sementara sektor properti, ritel dan media masih menunjukkan perlambatan, stagnasi atau bahkan perlambatan pertumbuhan.

Mitigasi risiko

Untuk mitigasi risiko investasi, investor tetap harus melakukan diversifikasi sektoral dan emiten. Selain itu eksekusi investasi lebih baik dilakukan bertahap dengan harapan mendapatkan average cost yang lebih baik dibandingkan investasi sekaligus pada satu waktu.

Berinvestasi secara bertahap pada reksa dana yang memiliki portofolio terdiversifikasi atas emiten berkapitalisasi besar dengan fundamental kuat merupakan salah satu solusi efektif untuk mendapatkan keuntungan investasi di Desember 2017 dan kuartal-1 di 2018, sekaligus mitigasi risiko.

Oleh karena itu Avrist Asset Management akan meluncurkan reksa dana saham berbasis indeks IDX30 untuk membantu investor menjalankan strategi investasinya diatas. Indeks IDX30 merupakan indeks saham yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar, likuiditas tinggi dan fundamental baik.

Sumber data:     Bloomberg

Image: videoblocks.com

Leave a Reply