Perbedaan Peer-to-peer Lending dan Equity Crowdfunding

Di jaman digital ini makin banyak alternatif untuk mengembangkan dana. Salah duanya adalah Equity Crowdfunding dan Peer-to-peer Lending. Peer-to-peer Lending (P2PL) lebih dulu hadir, secara regulasi sudah keluar sejak Desember 2016, sedangkan Equity Crowdfunding (ECF) baru teregulasi dua tahun kemudian, tepatnya Desember 2018.

peer to peer lending

Per hari ini ada menurut catatan di OJK, ada 161 platform P2PL yang terdaftar dan berijin, serta ada 3 platform ECF yang telah berijin. Sebelumnya jangan salah paham dulu ya, status terdaftar dan berijin untuk P2PL dan ECF ini berbeda, karena secara regulasi dan pengawasannya pun berbeda.

Perbedaan Peer-to-Peer Lending dan Equity Crowdfunding

Sebelum masuk ke perbedaan ini, ada hal penting yang harus dipahami tentang investasi. Dan karena bicaranya investasi, maka pembahasan ini dari sudut pandang PENDANA atau INVESTOR ya. Investasi itu pada dasarnya terdiri atas dua kegiatan: MEMILIKI dan MEMINJAMKAN.

Investasi itu pada dasarnya terdiri atas dua kegiatan: MEMILIKI dan MEMINJAMKAN.

Perbedaannya jelas ya. MEMILIKI adalah seperti kegiatan membeli, menguasai sesuatu aset dengan harapan akan memberikan keuntungan di masa mendatang. Contoh gampangnya investasi rumah atau emas, beli sekarang, dengan harapan ada pemasukan nantinya di masa depan.

MEMINJAMKAN juga jelas, kita mempercayakan uang kita untuk kebutuhan pihak lain, biasanya dalam jangka tidak terlalu panjang, untuk kemudian dikembalikan di saat yang diperjanjikan dengan tambahan imbal hasil / bunga pada tingkat yang disepakati. Ini contoh gampangnya produk surat berharga negara, seperti ORI atau sukri.

Karakter dan Risiko Peer-to-Peer Lending

Sesuai dengan nama peer-to-peer lending yang menggunakan kata “lending“, P2PL menyediakan pinjaman sebagai instrumen pengembangan dana. Biar perbandingan dengan ECF bisa apple to apple, saya bahas sisi P2PL yang bersifat marketplace ya, dimana masyarakat umum pun bisa berpartisipasi untuk mendanai.

p2p lending indonesia

Beberapa karakternya antara lain:

  • Menjadi penghubung antara pihak yang memiliki dana dan pihak yang ingin meminjam dana.
  • Pada P2PL yang berbentuk marketplace, dana yang dihimpun juga berasal dari masyarakat umum (crowdfunding).
  • Umumnya untuk pinjaman dalam jangka waktu pendek, dalam hitungan hari sampai dengan 24 bulan.
  • Pemilik dana akan memperoleh pengembalian pokok dan bunga secara berkala atau sekaligus saat jatuh tempo.
  • Secara regulasi bunga P2PL maksimal 0.8% per hari (namun untuk P2PL produktif, umumnya bunga maksimal sekitar 24% per tahun).
  • Sebagian fasilitas pinjaman memiliki agunan atau dicover dengan asuransi kredit.

Platform P2PL berfungsi sebagai perantara, menyeleksi calon peminjam sekaligus memberikan analisa dan rekomendasi awal. Namun keputusan pendanaan terletak pada masing-masing Pendana. Dengan demikian maka risiko atas pendanaan pun terletak pada masing-masing Pendana.

Risiko-risiko atas pembiayaan di peer-to-peer lending

Ada beberapa risiko yang dihadapi oleh Pendana pada platform P2P Lending, antara lain:

#1 Risiko kredit

Ini contoh gampangnya adalah saat pinjaman jatuh tempo, cicilan maupun pokok, Peminjam gagal memenuhi kewajibannya karena ada permasalahan di bisnis. Kejadian yang umum di P2PL Indonesia (produktif) adalah karena terlambatnya pembayaran dari pemberi kerja si Peminjam.

Bisa juga karena adanya force majeur seperti pandemi Covid-19 ini membuat usaha peminjam terganggu sehingga tidak bisa melakukan pembayaran pinjaman.

Risiko ini bisa menyebabkan Peminjam dituntut secara perdata atas wanprestasi.

#2 Risiko Fraud

Bedanya dengan risiko kredit, risiko fraud umumnya sudah direncanakan dari awal oleh Peminjam. Disini peranan platform P2PL untuk bisa menganalisa dengan baik menjadi sangat diperlukan.

Dalam beberapa kasus P2PL di China malah lebih ekstrim, platform melakukan skema Ponzi atau juga menyalurkan pinjaman untuk kepentingan grup usahanya.

Risiko ini bisa menyebabkan Peminjam dituntut secara pidana dan perdata. Dalam kasus jika ada kerjasama dengan platform, P2PL yang bersangkutan pun bisa dituntut secara pidana.

#3 Risiko Operasional

Berkaitan dengan hal-hal di luar pinjaman, seperti misalnya kesulitan dalam pencairan dana dari dompet elektronik ataupun hal-hal lain yang membuat pendana kehilangan dana.

Mitigasi risiko peer-to-peer landing

Sekali lagi, risiko pembiayaan di P2PL terletak pada diri Pendana, sehingga penting banget untuk tau cara memitigasi (bukan menghilangkan) risiko-risiko yang ada:

  • Pastikan platform P2PL yang akan digunakan telah terdaftar di OJK.
  • Baca dan pahami semua informasi terkait calon Peminjam yang akan didanai, dan juga skema pendanaan yang akan dilakukan.
  • Fasilitas tanpa jaminan dan asuransi dengan sendirinya menawarkan bunga lebih tinggi sebagai trade-off nya. Pastikan Anda paham dengan konsekuensi ini.
  • Pelajari platform yang digunakan, pahami fokus dan track record dari P2PL tersebut.
  • Pastikan P2PL telah menerapkan sistem rekening dana lender (RDL) untuk mencegah risiko dana di dompet elektronik disalahgunakan oleh platform.

Karakter dan Risiko Equity Crowdfunding

Nah karena ada nama “equity“, yang dalam perspektif akuntansi artinya modal, platform menyediakan instrumen untuk memberikan kesempatan bagi pihak yang punya dana (Pemodal) untuk memiliki saham (modal) dalam suatu aset.

equity crowdfunding indonesia

Gampangnya kayak saham saja, kita membeli saham artinya kita menjadi salah satu pemilik modal di perusahaan tersebut sesuai dengan nilai yang disepakati di pasar saham.

ECF mirip dengan investasi saham yang kita kenal di bursa efek, bedanya ini difokuskan untuk berinvestasi pada perusahaan level UMKM yang belum terdaftar di bursa efek.

Karakter equity crowdfunding antara lain:

  • Menjadi penghubung antara Pemodal dengan Pemilik bisnis atau aset yang memutuhkan tambahan modal.
  • Fokus untuk memberikan askes permodalan bagi pihak-pihak yang belum bisa masuk dalam jangkauan pasar modal.
  • Tidak ada jangka waktu investasi, Pemodal bisa menjual kembali investasinya di pasar sekunder.
  • Investor akan memperoleh keuntungan berupa capital gain dan dividen. Keuntungan diperoleh saat investasi dijual kepada investor lainnya dan juga saat pembagian dividen. Sama kan dengan saham di bursa efek?

Serupa dengan P2PL, platform ECF juga berkewajiban untuk menyeleksi, menganalisa dan memberikan rekomendasi terkait bisnis yang membutuhkan permodalan. Semua keputusan pendanaan tergantung sepenuhnya kepada Pemodal.

Risiko-risiko atas pendanaan di Equity Crowdfunding

Namanya juga investasi, pasti ada risiko. Risiko-risiko umumnya antara lain:

#1 Risiko investasi

Maksudnya, seperti juga di saham, tidak ada jaminan investasi kita akan berkembang sesuai harapan. Bisa jadi malah hilang 100%, tergantung dari perkembangan bisnis dari usaha atau aset yang kita beli.

Misalnya kita berinvestasi di kedai kopi dengan prospek yang menurut kita bagus. Namun ternyata setelah kita masuk sebagai pemegang saham, penjualan tidak sesuai harapan dan (paitnya) bangkrut.

Nah ini adalah risiko investasi. Risiko dalam memiliki bisnis, tidak ada pihak yang bisa disalahkan atau diminta pertanggung jawaban. Semua kerugian harus kita tanggung sebagai “pemilik usaha”.

Atau ada risiko lain yang tidak terlalu ekstrim, ternyata usahanya berjalan biasa saja sehingga valuasi perusahaan tidak berubah. Artinya ada kemungkinan kita tidak bisa memperoleh capital gain yang diharapkan.

Risiko ini juga berlaku untuk dividen, dimana dividen ini sangat tergantung pada performa bisnis dan keputusan RUPS. Jadi bisa jadi tidak ada dividen yang akan dibagikan dalam periode tertentu.

#2 Risiko likuiditas

Seperti sudah disebut sebelumnya, pengembalian dana investasi di ECF hanya bisa dilakukan lewat penjualan porsi saham/pendanaan di pasar sekunder. Nah kondisi sekarang, pasar sekunder ini akan dibuka 1 tahun setelah investasi dilakukan, dan pasar sekunder ini dibuka 2 kali dalam 1 tahun.

Artinya, Pemodal tidak bisa keluar masuk dengan gampang seperti di bursa saham. Risiko lainnya adalah jika saat ignin menjual di pasar sekunder kita tidak mendapatkan “lawan” untuk membeli.

#3 Risiko Operasional

Ini sama juga dengan P2PL, ada hal-hal dalam operasional platform ECF yang mungkin dapat menyebabkan Pemodal mengalami kerugian dari sisi dana yang ditempatkan di dompet elektronik ataupun di sisi lainnya.

Mitigasi risiko pada equity crowdfunding

Dari risiko-risiko di atas, bagaimana cara memitigasi untuk memperkecil potensi kerugian Pemodal?

  1. Pastikan platform ECF yang akan digunakan telah memperoleh ijin dari OJK.
  2. Pelajari dengan detail tentang bisnis dan aset yang akan “dibeli”. Ini adalah investasi yang akan kita miliki dalam jangka panjang, segala sesuatu bisa terjadi, sehingga pemahaman atas prospek jangka panjang dan risiko menjadi hal yang sangat penting.
  3. Pelajari dan cari tau track record serta fokus dari platform yang akan digunakan.
p2p lending vs equity crowdfunding

Saran penggunaan platform P2P Lending dan Equity Crowdfunding

Demikian penjelasan singkat mengenai perbedaan antara peer-to-peer lending (P2P lending) dan equity crowdfunding di Indonesia. Sebagai penutup, berikut beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum menggunakan kedua jenis platform tersebut.

  • Sekali lagi, pastikan platform yang digunakan sudah terdaftar di OJK.
  • Pastikan jangka waktu yang diinginkan. Jika berorientasi jangka pendek, bisa menggunakan P2PL dengan basis pinjaman dan imbal hasil telah diketahui di depan. Jika jangka panjang, bisa menggunakan ECF dengan potensi hasil yang tidak terbatas dari capital gain dan dividen.
  • Pelajari dengan saksama kemana pendanaan akan disalurkan. Jangan sampai membeli “kucing dalam karung”.
  • Gunakan “uang dingin”, karena risiko pendanaan di kedua jenis platform ini terletak pada kita sebagai pemilik dana.

Sekian. Semoga berguna ya…

Leave a Reply