Mengenal P2P Pendidikan di Indonesia

Dana pendidikan anak adalah salah satu hal utama yang menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Dari semua literatur terkait perencanaan keuangan, namanya dana pendidikan anak ini adalah salah satu pos keuangan yang harus dibuat dan dijaga dengan baik.

Idealnya, dana pendidikan anak ini sudah harus dipersiapkan sejak dini. Topik tentang cara menyiapkan dana pendidikan anak ini juga merupakan topik yang sering sekali di bahas oleh para ahli keuangan di berbagai media.

Tapi, reality bites, gimana jika anak sudah harus sekolah tapi dananya belum ada atau belum terkumpul? Bisa jadi orangtua belum paham tentang persiapan dana pendidikan anak ataupun sedang dalam kondisi keuangan yang berat sehingga dana pendidikannya tidak bisa terkumpul.

Disclaimer dulu ya, tulisan ini ngga bermaksud untuk mendorong masyarakat berutang untuk membiayai pendidikan. Sama seperti produk pinjaman lain, bijaksana dalam menggunakan pinjaman adalah hal terpenting.

Student loan sebagai solusi

Kalau di luar negeri, fasilitas student loan itu sudah biasa. Presiden Jokowi pun sudah mencanangkan ide kredit pendidikan ini pada Maret 2018, dan menurut berita sudah ditindaklanjuti oleh beberapa bank nasional.

Tentu saja hal ini memancing pro kontra terkait kredit untuk dana pendidikan dengan melihat kondisi Indonesia dan juga hasil implementasi di negara lain, khususnya di Amerika Serikat.

P2P Dana Pendidikan di Indonesia

Ini bukan tulisan berbayar, bukan juga rekomendasi. Tapi untuk kondisi-kondisi seperti saya sebutkan di atas, kita wajib dong punya alternatif solusinya, benar ngga?

Biasanya untuk kebutuhan dana seperti ini orang akhirnya larinya ke KTA. Tapi belum tentu bisa disetujui juga, dan secara nominal belum tentu sesuai kebutuhan.

Nah, saat ini ada beberapa perusahaan fintech di dunia P2P Lending yang mengarahkan fokus kepada penyediaan dana pendidikan. Ngga hanya untuk kuliah (yang nantinya bayarnya dari hasil bekerja), tapi juga untuk biaya pendidikan dari level TK.

Secara garis besar platform P2P pendidikan di Indonesia terbagi atas 2 kelompok besar:

#1 P2P yang membiayai dana pendidikan (uang pangkal dan SPP)

Salah satu yang mau saya bahas adalah Pintek. Platform ini menyediakan pembiayaan untuk dana pendidikan dari level TK sampai dengan S-3. Pembiayaannya meliputi uang pangkal dan atau SPP rutin.

Lembaga pendidikan pun meliputi sekolah, universitas, sampai dengan lembaga kursus. Saat ini sudah ada sekitar 100 lembaga yang bekerja sama dengan Pintek.

Pembiayaan ini ngga terbatas hanya di lembaga yang telah bekerja sama, bisa juga untuk lembaga pendidikan di luar daftar Pintek. Namun ada proses verifikasi tambahan yang harus dilakukan.

Jumlah pendanaan berkisar antara Rp 3juta s/d Rp 300 juta, dan bisa diangsur 6 bulan atau lebih, tergantung analisa kebutuhan dan kemampuan pembayaran.

Kemampuan pembayaran yang dimaksud disini adalah kemampuan keuangan orang tua peserta didik atau juga mahasiswa tingkat lanjut yang memang telah memiliki penghasilan sendiri.

Bunganya? Maksimal 1.5% per bulan. Uniknya, ada juga juga pembiayaan di lembaga-lembaga pendidikan tertentu dengan bunga 0% alias tanpa bunga.

Konsep yag sama juga ada di platform P2P lain seperti Koinworks lewat program KoinPintar, juga ada Dana Cita, DanaBagus, DanaDidik dan juga Edufund. Semuanya fokus kepada pembiayaan biaya pendidikan dengan skema yang kurang lebih sama.

Diantara platform itu ada juga yang menggunakan skema crowdfunding, seperti DanaDidik. Jadi tidak hanya melayani pinjaman, namun masyarakat pun bisa mengembangkan dana untuk membantu biaya pendidikan masyarakat yang membutuhkan.

#2 P2P yang membiayai kebutuhan peserta didik

Nah ada lagi platform lain yang bermain di ranah pendidikan, namun tidak spesifik untuk membiayai biaya pendidikan. Intinya dana tersebut bisa digunakan untuk kebutuhan lainnya dari mahasiswa, selama ditujukan untuk membantu kegiatan perkuliahan.

Salah satu platform adalah adalah Kredito, yang menyiapkan pinjaman dana tunai kepada mahasiswa untuk kebutuhan apapun, tidak terbatas hanya pada pembayaran SPP.

Tenornya pun pendek, hitungan minggu. Intinya selama memang betul mahasiswa, terverifikasi, latar belakang oke, analisa kebutuhan sesuai, maka bisa diberikan pembiayaan.

Biasanya pembiayaan ini digunakan untuk membayar kebutuhan buku, laptop, kos-kosan atau bisa juga untuk bayar SPP. Pembiayaan dimulai dari kisaran Rp 600 ribu s/d Rp 8 juta.

Bisnis model sejenis juga dilakukan oleh platform P2P lain seperti DanaBagus dan Cicil. Cicil ini memfasilitasi pembelian barang-barang kebutuhan mahasiswa seperti laptop, tas, sampai dengan handphone.

Uniknya di Cicil mahasiswa bisa juga menjadi ambassasor untuk menjadi partner dalam memasarkan dan mengedukasi produk pada teman-temannya. Boleh juga nih, bisa jadi agen juga untuk verifikasi.

Be wise!

Demikian sharing nya ya. Sekali lagi saya ulang disclaimer di atas, tetap bijak memanfaatkan pinjaman, termasuk bijak dalam memanfaatkan pinjaman biaya pendidikan dari P2P Lending pendidikan ini.

Fasilitas yang disiapkan oleh platform-platform P2P lending ini bertujuan untuk memberikan alternatif pendanaan untuk biaya pendidikan. Inget ya, ALTERNATIF, yang artinya hanya sebagai pilihan jika pilihan-pilihan utama ngga bisa digunakan.

Beberapa hal yang harus dilakukan dalam menyikapi biaya pendidikan:

  1. Siapkan dana pendidikan anak sejak dini sesuai dengan tujuan sekolah yang diinginkan.
  2. Jika harus meminjam, perhitungkan dengan matang mengenai kebutuhan biaya pendidikan.
  3. Pastikan jumlah pinjaman dan cicilan sesuai dengan kemampuan membayar.
  4. Jika memanfaatkan P2P Lending, jangan lupa cek status legal platform nya di website OJK.
  5. Terakhir, untuk yang ingin menjadi lender dengan mengembangkan dana melalui P2P pendidikan, selalu diingat bahwa risiko kredit ditanggung oleh lender sendiri. Jadi, hati-hati.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply