Pages Navigation Menu

Referensi Praktis Merancang Masa Depan

Apakah Ibu Rumah Tangga Butuh Asuransi Jiwa?

ibu rumah tangga perlu asuransi jiwaPertanyaan penting nih, perlukah seorang ibu rumah tangga memiliki asuransi jiwa? Sebenarnya saya pernah membahas di tulisan saya terdahulu tentang asuransi yang terdiri dari artikel 1 dan artikel 2. Namun ternyata seiring waktu saya memperoleh banyak referensi yang menunjukkan bahwa sebenarnya keputusan asuransi jiwa untuk ibu rumah tangga lebih bergantung dari kondisi dan pandangan masing-masing keluarga. Tidak bisa dibuat suatu aturan saklak yang berlaku untuk semua pihak. Tidak percaya? Mari kita bahas yah.

Berdasarkan teori, asuransi jiwa diperlukan oleh tulang punggung keluarga ataupun anggota keluarga yang memiliki kontribusi keuangan terhadap biaya rumah tangga. Dengan kata lain, asuransi diperlukan untuk melindungi kondisi keuangan keluarga jika pemberi nafkah meninggal atau tidak lagi memiliki penghasilan karena penyakit atau cacat tetap. Dari teori ini, maka seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari melakukan tugas-tugas rutin rumah tangga dan mengurus anak, serta tidak memiliki penghasilan, tidak perlu memiliki asuransi jiwa. Logikanya, tidak ada implikasi keuangan yang timbul jika beliau meninggal.

Namun pada perkembangannya, ada pandangan lain tentang kebutuhan asuransi jiwa untuk ibu rumah tangga. Salah satunya diceritakan dengan baik dalam artikel Steve Scalici. Intinya, seorang ibu rumah tangga memiliki tanggung jawab yang sangat besar di rumah. Mulai dari mengurus semua urusan rumah tangga sampai dengan mendidik anak-anak, termasuk juga mengantar dan juga menjemput anak di sekolah. Dengan demikian maka jika ibu tersebut meninggal, akan ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan oleh kepala keluarga, meliputi biaya untuk menyewa pembantu/pengasuh anak, serta mungkin supir untuk antar jemput anak. Dengan demikian maka ibu rumah tangga harus dicover dengan uang pertanggungan sebesar biaya pengasuh dan supir ini selama usia anak masih belum bisa mandiri.

Pandangan di atas secara logika sangat masuk akal. Akan tetapi, buat kalangan pemerhati masalah wanita, hal ini bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap profesi mulia seorang ibu rumah tangga. Iya lah, masa iya jiwa seorang ibu rumah tangga, yang sudah berkorban demi rumah tangga dan anak, cuma dihargai sebesar gaji pengasuh anak dan supir? Kalau memang harus diganti, ya gantilah dengan ibu baru #eh? #plaaak. Maksudnya, jika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi maka sang suami harus mau mencari cara lain ataupun mengorbankan waktu untuk anak-anak.

Beda halnya jika ibu rumah tangga tersebut tidak melakukan tanggung jawab sebagaimana mestinya. Eh ini beneran kejadian lho. Sedikit cerita, saya pernah berbincang-bincang dengan seorang pengasuh anak teman saya (ngga nyangka yah tongkrongan gw ama mbak2, hehehe). Dia bercerita tentang bagaimana dia kasihan dengan anak-anak dari majikan dia sebelumnya. Sang suami adalah seorang pengusaha yang jarang berada di rumah, sedangkan sang istri adalah seorang ibu rumah tangga yang juga jarang ada di rumah. Seringnya jalan-jalan ke mall, arisan ataupun menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Anak-anak mereka bahkan lebih jarang bertemu dengan sang ibu dibanding dengan ayah mereka. Nah, untuk kondisi seperti ini, sepertinya wajar jika ibu rumah tangga tersebut tidak memiliki asuransi jiwa.

Pertimbangan lain dari kalangan yang tidak mendukung asuransi jiwa untuk ibu rumah tangga juga didasarkan pada kenyataan bahwa saat ibu rumah tangga meninggal maka akan ada komponen biaya rutin keluarga yang ikut hilang. Misalnya, biaya makan, groceries, kosmetik sampai ke kebutuhan lain-lain seperti biaya majalah dan pulsa telepon. Biaya-biaya tersebut seharusnya cukup untuk membiayai pengeluaran tambahan untuk pengasuh ataupun supir jika dibutuhkan.

Sampai disini bisa dilihat bahwa ada 2 pandangan tentang perlu tidaknya asuransi jiwa untuk ibu rumah tangga dengan beberapa alasan yang sama-sama masuk akal. Semua tergantung dari kondisi dan pandangan masing-masing orang dan mungkin berbeda satu sama lain.

Ada lagi pandangan lain yang lebih ektrim, tapi ada benarnya juga, bahkan menurut saya pandangan paling mulia yang pernah saya temui. Pandangan ini saya baca dari salah satu tulisan seorang financial planner luar negeri, tapi mohon maaf saya lupa sumbernya. Di tulisan tersebut beliau bercerita tentang seorang kepala keluarga yang memaksa untuk membuatkan asuransi jiwa untuk istrinya, yang notabene seorang ibu rumah tangga, dengan uang pertanggungan yang sama persis dengan dirinya. Hal ini jelas sudah tidak sesuai teori umum. Bahkan teori yang mengharuskan ibu rumah tangga memiliki asuransi jiwa pun tidak menyarankan uang pertanggungan jiwa istri yang setara dengan kepunyaan sang suami. Namun sang suami tetap memaksa, dengan alasan:

Buatkan asuransi jiwa untuk istriku dengan uang pertanggungan yang sama dengan diriku. Karena jika istriku lebih dulu meninggal, maka aku akan keluar dari pekerjaanku saat ini. Aku akan tinggal di rumah untuk menggantikan semua tugas-tugas istriku dalam membesarkan anak-anakku sampai mereka mandiri kelak

Pada lumer ngga sih bacanya? Hehehehe…

Intinya, keputusan mengenai perlu tidaknya seorang ibu rumah tangga dalam memiliki asuransi jiwa sebenarnya berbalik kepada anda sendiri. Semua bergantung pada bagaimana kondisi dan rencana anda untuk masa depan yang terbaik bagi anak-anak anda.

Selamat berasuransi.

 

Image: www.erati.com

468 ad

4 Comments

  1. Itu namanya ngarep istrinya jika meninggal ada uang pertanggungan untuk kawin lagi…ha..ha..ha…

    • Hahaha… Kalo di Indo bisa jadi niat suami kayak gitu malah dicurigain ama istri :)

  2. halo terima kasih sharingnya

    • Halo juga. Sama2, semoga berguna…

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ibu Rumah Tangga: Perlukah Asuransi Jiwa? | Allianz Syariah - [...] hal besarnya UP jiwa untuk istri, ada satu gagasan mulia yang saya baca di blog Junior Planner, kutipannya di …

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Advertisement